1
Sekian Juni, 2005
“ Aku ngapain harus sekolah di Bandung sih? Emang di Jakarta kenapa? Pada nggak seneng liat aku di Jakarta ya?! ”
“ Bukan gitu. Cuma pengen kamu biar bisa belajar hidup mandiri. Toh nanti ujungnya kamu harus hidup sendiri. “
Ucapan nyokap barusan langsung membungkam marah gue saat itu. Mendadak harus sekolah di Bandung membuat gue cukup marah saat itu. Gue nyaman dengan temen gue saat itu. Buat pindah sekolah ke tempat yang asing dan mulai menata social life gue dari awal lagi bukan pekerjaan yang mudah. Dan gue sangat tidak mengharapkan itu buat setidaknya beberapa tahun kedepan. Tapi upaya nyokap yang kekeuh[1] buat sekolahin gue di Bandung demi alasan hidup mandiri, mau nggak mau harus mau. Suka nggak suka harus suka.
Jelas Bandung bukan pilihan utama Nyokap dan Bokap saat itu. Mereka sempat berpikir untuk menyekolahkan gue ke Palu saat itu. Tapi nggak jadi karena alasan terlalu jauh dan terlalu memakan biaya kalau salah satu diantara kami ada yang rindu dan ingin mengunjungi satu sama lain. Jadilah pilihan tempat untuk mengkarantina gue selama beberapa tahun jatuh di Bandung.
Tinggal di Bandung ternyata tidak seburuk yang gue bayangkan. Orang – orang disini cukup ramah. Yaah walaupun gue nggak ngerti apa arti dari ucapan mereka, tapi gue selalu berupaya tersenyum atas ucapan mereka. Either it’s good or bad. Like I care aja. Gue juga cukup cepat mendapatkan teman di Bandung. Tapi Cuma satu yang beneran jadi temen deket gue. Namanya Susan. Or as I call her, Kue Sus. It wasn’t a nice thing to do, but she seems okay with it. Dan dia manggil gue kue Tart. Yeah, we sounds delicious that way.