Kamis, 19 Januari 2012

Flash-Back #1.1


                                                                                            1

Sekian Juni, 2005

            “ Aku ngapain harus sekolah di Bandung sih? Emang di Jakarta kenapa? Pada nggak seneng liat aku di Jakarta ya?! ”

            “ Bukan gitu. Cuma pengen kamu biar bisa belajar hidup mandiri. Toh nanti ujungnya kamu harus hidup sendiri. “

            Ucapan nyokap barusan langsung membungkam marah gue saat itu. Mendadak harus sekolah di Bandung membuat gue cukup marah saat itu. Gue nyaman dengan temen gue saat itu. Buat pindah sekolah ke tempat yang asing dan mulai menata social life gue dari awal lagi bukan pekerjaan yang mudah. Dan gue sangat tidak mengharapkan itu buat setidaknya beberapa tahun kedepan. Tapi upaya nyokap yang kekeuh[1] buat sekolahin gue di Bandung demi alasan hidup mandiri, mau nggak mau harus mau. Suka nggak suka harus suka.

            Jelas Bandung bukan pilihan utama Nyokap dan Bokap saat itu. Mereka sempat berpikir untuk menyekolahkan gue ke Palu saat itu. Tapi nggak jadi karena alasan terlalu jauh dan terlalu memakan biaya kalau salah satu diantara kami ada yang rindu dan ingin mengunjungi satu sama lain. Jadilah pilihan tempat untuk mengkarantina gue selama beberapa tahun jatuh di Bandung. 

            Tinggal di Bandung ternyata tidak seburuk yang gue bayangkan. Orang – orang disini cukup ramah. Yaah walaupun gue nggak ngerti apa arti dari ucapan mereka, tapi gue selalu berupaya tersenyum atas ucapan mereka. Either it’s good or bad. Like I care aja. Gue juga cukup cepat mendapatkan teman di Bandung. Tapi Cuma satu yang beneran jadi temen deket gue. Namanya Susan. Or as I call her, Kue Sus. It wasn’t a nice thing to do, but she seems okay with it. Dan dia manggil gue kue Tart. Yeah, we sounds delicious that way





            Gue bukan tipe yang too picky untuk urusan berteman. Tapi Susan itu memang beneran tetangga gue di Jakarta dan bahkan di Bandung kita masih tetap tetanggaan. Emang jodoh itu nggak kemana. Bukan berarti gue pecinta wanita. Gue normal 100% kok! Cuma saat itu gue cukup bersyukur seenggaknya ada satu orang out of thousand yang udah bener – bener kenal gue.

            Susan yang saat itu merupakan model freelance di tempat kakaknya, mengajak gue untuk mencoba ikutan jadi model disana. Hahaha. Me? Modelling? Sounds like trying to put heels on baby’s foot. Yap! Gue bukan tipe yang senang akan hal seperti itu. Biarpun berulang kali Susan dan kakaknya meyakinkan kalo gue nggak begitu buruk rupa, tapi tetep aja modelling sounds nightmare buat gue. Itu kayak orang vegetarian ikut kontes makan hot dog. Sounds imposible.

            “ Disana enak loh, Ra. Nggak begitu susah dan kita bakalan enjoy banget ngelakuin nya, “ rayuan Susan dimulai lagi, “ Orangnya baik – baik. Banyak cowok ganteng pula , “ sekarang Susan nyengir gajah.

            “ Nope. Thanks . Lo kayak nggak kenal gue aja Sus. I’m not that kind of girl, “ dan saat itu juga gue sadar kalo ternyata cengiran Susan hilang mendadak. “ Whoaa… “  kali ini mulut Susan yang menganga udah nggak bisa di tolerir.

            Dan saat itu muncul sosok yang berhasil ngebuat mulut Susan menganga begitu lebar. Sosok cowok yang berjalan kearah kita. Menatap Susan sambil terus mendekati kearah kita. Emang kalo diliat sekilas, lelaki tampan yang satu ini emang terlalu silau dan menyakitkan mata semua perempuan. Dilihat dari cara jalannya aja, gue yakin kalo dia bukan asli orang Bandung. Tapi buat gue, cowok yang kayak gini ya cowok tipikal biasa. Mereka sering terkagum – kagum sama kecantikkan Susan yang sama menyilaukan mata persis kayak si cowok ini. Oh wait, barusan juga cewek yang dilewatinya sampai memalingkan wajah dari pacar mereka masing – masing. Butuh waktu sekitar beberapa puluh detik buat gue sadar kalo gue bukan sedang terjebak dalam iklan sampo khusus laki – laki.

            Dan dia berhenti persis didepan gue dan Susan. Gue dengan tidak pedulinya hanya memalingkan wajah sambil meminum Milo panas kesukaan gue. Berusaha tidak peduli dengan omongan apa yang akan ditanyakan sama si cowok ini ke Susan. Pertanyaan basi yang bahkan gue sendiri bingung kenapa Susan nggak pernah bosen dengernya. Pertanyaan garing biasa kayak “ Anak sekolah mana? “ or  “ Kamu Model ya? Kayak sering lihat di majalah “ even ke hal – hal yang menurut gue sangat absurd seperti “ Zodiak kita pasti sama. Soalnya aku tau kita ini jodoh “. Mungkin kalo yang satu itu si lelaki ini harus dipastikan merupakan cucu dari Mama Loren.

            “ Lo Tara kan? “ tanya si cowok ini mendadak. Setelah gue sadari ternyata nggak mendadak. Dia emang baru aja nyampe dan langsung bertanya sama gue. Bukan Susan. Gue hanya melirik Susan sebentar dan menangkap basah tatapan tertegun ala babon milik Sahabat gue seorang itu, terus mengamati wajah si pemilik suara ini. Mungkinkah dia orang yang pernah nggak sengaja gue siram pake selang waktu ada kerja bakti di sekolah? Atau mungkin dia orang yang kurang beruntung yang pernah melihat foto gue di studio kakaknya Susan dan dia langsung terkena diare akut terus mau minta pertanggung jawaban gue?

            “ Iya. Dan lo? “ tanya gue berhati – hati. Takut tiba – tiba dia menyerang gue dengan segala macam tuduhan yang ditimbulkan oleh perilaku gue yang sayangnya sering membuat orang di sektiar gue risih. Tapi bukan damprat[2] yang gue dapet. Melainkan senyuman hangat yang entah kenapa  seems familiar  di otak gue. “ Gue Salman. Kita temen satu kelas, “ jawab Salman akhirnya “ Gue adiknya Mba Dinda dan Dita. Lo kenal Mba Dinda dan Mba Dita kan? “. Dan gue hampir aja mengeluarkan Milo tersebut dari hidung gue saking terkejutnya akan siapa yang sekarang sedang berhadapan muka dengan gue. Dan itu cukup ngebuat hidung gue panas.

            Gue dan both of Mba Dinda dan Dita cukup mengenal baik satu sama lain. Bukan Cuma mengenal. Gue udah menganggap mereka seperti kakak kandung gue sendiri. Both of them gue kenal sewaktu gue kecil. Bokap sama Nyokap memang berteman baik dengan keluarga Om Saleman, as in Mba Dita dan Dinda’s father. Gue sering main kerumah mereka. Gue tau Om Saleman punya 4 anak. Anak pertama dan terakhir beliau adalah laki – laki, sedangkan anak kedua dan ketiga adalah perempuan. Tapi gue selama ini Cuma pernah bertemu sama anak perempuannya. Tapi satu hal yang pasti, gue sering diledekin kalo sebenernya gue udah di jodohin sama anak terakhir Om Saleman. Dan gue Cuma tertawa dan meng-iya-kan saja omongan mereka saat itu. Nggak pernah nyangka kalo akan bertemu Salman secara langsung. Dulu Salman tinggal bersama Neneknya di Lampung. Jadi dia jarang ke Jakarta. Gue pernah sekali ketemu dia. Tapi itu udah lama banget. Dan gue pernah dikasih tau kalau Salman nggak akan balik lagi ke pulau Jawa ini. Makanya gue cukup tenang saat bilang mau dijodohin sama dia.

            “ Err.. Ah iya.. Emm.. Ta.. Tau kok. Ini.. Eng.. Salman anak Om Saleman kan? “ gue gugup. Wait, what?! Gue GU-GU-P?! Gosh! This Salman sure know how to make a girl nerveous. Dan entah kenapa gue melihat sorot bahagia di matanya. Wait. Did I just mention ‘ Bahagia ‘ ? Dia mengangguk anggun dan lagi – lagi gue seperti lagi nonton iklan sampo di tv. “ Kok tapi kayaknya gue nggak pernah liat lo dikelas? “ dan lagi – lagi dia tersenyum manis.

            “ Gue duduk lumayan jauh dari lo. Dan lo sepertinya nggak peduli sama cowok – cowok dan keributan yang ada di kelas. Bukan acuh. Tapi nggak peduli “. Hah?! Apa bedanya nggak acuh sama nggak peduli? Well, this Salman is not too bad when it comes to judging people’s personality. Some how he..He sure has a point “ celetuk Susan yang gue lupa akan kehadirannya. Gue hanya menatap Susan dan merengut imut mengingat keberadaan Salman dalam radius 100M gue. Tapi bukan merengut imut yang gue tampilkan nampaknya, melainkan merengut nahan poop sepertinya karena saat itu Salman langsung tertawa terbahak – bahak.

            “ Kamu imut. Ternyata bener apa kata Dinda, “ ucap Salman setelah dia bisa meredakan tawanya dan menarik napas dengan normal “ well, saya harus pergi. Ketemu nanti di sekolah ya “ kemudian dia pergi begitu saja.


[1]Maksa
[2] Omelan, makian, pokoknya gitu deh ngomel – ngomel tanpa jeda.




to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar