Jakarta kemarin pagi,
Beberapa menit lagi gue harus kekampus. Mau nganterin titipan obat temen gue. Bukan, gue bukan tukang obat. Gue hanya tukang…yang dititipi obat. Gue harus nganterin obat ini ke PNJ tapi gue masih dalam keadaan setengah sadar, dan belum mandi sama sekali. Alih-alih milih buat mandi, gue malah memilih untuk menyalakan komputer dan mulai ngetik tulisan ini..dalam posisi jongkok setengah nahan kebutuhan untuk morning-poop. Gue bingung kenapa gue memilih nulis ginian daripada buru-buru mandi dan langsung cabut ke kampus. Entah kenapa gue lebih milih nahan ‘eek dari pada ngebuangnya langsung. Asli kaloyang satu itu absurd abis.
Jadi gini, kemarin gue abis lomba sprint gitu dikampus. Buat olimpiade jurusan gue. Olimpiade Elektro. Satu hal aneh yang gue rasain, dan gue yakin kalian juga rasain, yang melintas dipikiran gue pertama kali denger kata “Olimpiade Elektro” adalah olimpiade dimana lombanya berhubungan sama elektro. Misalkan ngerakit robot atau apalah itu namanya. But, you know what, olimpiade ini nggak seperti itu saudara sekalian! Olimpiade ini.. ya olimpiade biasa. Dimana kami, sesama Mahasiswa, saling beradu otot. Ya, Otot. As in “Lomba Fisik Biasa”. Jauh banget dari pikiran gue.
Jadi kemarin gue kalah sprint. Mungkin karena faktor belum sarapan dan muka temen gue yang sangat membuyarkan konsentrasi gue. Asli , gue pas sebelum ada pendukung, selalu dengan mulus menang lomba sprint sampe final. Pas temen gue pada dateng, konsentrasi gue buyar. Then I lose it. Hahahaha nggak gitu juuga sih. Emang gue aja yag nggak bisa menang. Well, bukan itu yang mau gue ceritain. Ini tentang Bayu again.
*Backsound ( Adera – Lebih Indah )
Hahaha y’all know what, Bayu is still with his distances-grilfirend. Dan gue masih tetep mau ceritain dia. Ah.. inikah yang namanya cinta? Gyahahahahaha so lameeeeee!
Jadi kemarin gue baru ketemu Bayu lagi setelah sekian lama nggak ketemu. Rada lebay sih. Orang Cuma 5 tahun nggak ketemu kok gue sama dia.
Nah setelah gue bersusah payah dan berkutat dengan kode-kode ucapan sama temen-temen gue dimana gue berusaha buat menemukan keberadaan Bayu saat itu. Is he coming here? Where is he at? Is he going to see her girlfriend? Is he asking abaout me? Is he becoming completely gay? Gah! He’s GAAAYYY!!!
*backsound ( Agnez Monica – Rindu )
Nah tepat setelah gue kalah sprint di final, gue menuju kelas buat ngeliat chairmate gue dan cuhubut gue yang lain pada nulis her. Dan saat itu gue menemukan Bayu! You can guess what I feel at that time. Gue seneng nggak waras. Terlalu waras untuk sesenang itu. Dan terlalu gila buat nulis begini. Intinya sih gue seneng aja ngeliat Bayu. Gyahahahahahaha
Nah kesenangan dan kegemiraan gue nggak sampai disitu aja. I’m extremely happy when he asked me “Tara kenapa jalannya pincang? Tara abis ngapain?”. Dan dijawab sama chairmate gue “ Tara abis lari,Bay” dan Bayu dengan tololnya nanya “ Tara ngapain lari-lari? Tara emang dikejer siapa? Tara ngejer apaan?” . Rasa – rasanya gue pengen ngunyah Bayu saat itu juga.
Terlepas dari ketololan pertanyaan dia saat itu, gue cukup senang dengan perhatian dia. Gue tau dia nggak merhatiin gue dan Cuma bersikap seperti “teman-biasa-lainnya”. Dan gue terlalu berharap dia melebihkan perasaan dia saat itu. Tapi inilah gue. Cewek 18 tahun yang sering melebihkan perasaanya sendiri. Terlalu hopeless romantic-lah kalo bahasa kampung guenya mah. Dan hari itu gue menghabiskan waktu setengah hari bersama Bayu. Mulai dari ngurus kompen sama – sama , sampai makan siang.
Nah yang lucu lagi, pasmakan siang ini. Jadi gue sama Bayu termasuk orang kurus yang makannya nggak bisa kekontrol. Dan kita tipe orang yang bakal makan terus selama duit masih mencukupi. Hanya berhenti saat menjelang waktu solat. Karena takut pas sujud kita kentut.
Jadi pas waktu ngurus kompen, gue udah kelaperan karena waktu sudah menunjukkan jam siang. Sebenernya gue nggak tau jam berapa sih. Karena nampaknya gue selalu lapar setiap saat. Terus saat itu temen – temen gue yang lain kebanyakan di Lapangan UI depan. Karena sebagian dari temen gue itu panitia dari OE. Jadilah gue, chairmate sama Bayu ke lapangan. Nah sesampainya disana, gue mulai berisik minta – minta makanan. Kesana kemari mencari makanan. Bukan, bukan makanan palsu tapi. Nah si Bayu ini sama laparnya sama gue. Dia baru ngajak gue ke KanTek ( Kantin Poltek ) setelah agak lama gue mencari makanan sambil ngerengek nggak jelas. Nah temen gue yang lain mungkin muak sama kebisingan yang gue timbulkan, akhirnya mereka bilang sama gue kalo lapangan dibawah ada yang jual nasi rames. Tanpa aba – aba gue langsung menuju kesana. Dan melupakan keberadaan Bayu dan ajakannya saat itu juga. Gue , Utih, Anny, Vhia, dan IU langsung menuju ibu penjual rames dengan tampang kelaparan. Si Ibu sempat ketakutan liat tampang kita.
Dan setelah gue memesan makanan, tiba – tiba gue mendengar nama gue dipanggil. Gue otomatis langsung nengok. And there he is. Walking right through me. And he is Bayu. Yep, Bayu manggil gue dan berjalan kearah gue. Sepele sih. Tapi bagi gue, yang saat itu masih memiliki sedikit getaran ‘itu’ dan tanpa ada orang yang tahu, it’s feels so special. Dia pas nyampe di sebelah gue Cuma berdiri liat pesenan gue tanpa aba – aba. Dia Cuma berdiri doang. Penasaran gue tanya “ Lo nggak makan, Bay? “ , doi Cuma geleng – geleng dan bilang “ Nggak ah. Mau di KanTek aja “. Dan dia malah ngikutin gue kemana pun menghabiskan makanan itu. Nggak kemanapun sih. Soalnya gue Cuma makan dipinggir lapangan with my girls. Chairmate was there too. Enjoying our meal. And I, finally I eat something before I really going to die.
Gue makan dengan tenang, dengan diganggu Bayu tentunya, sampai habis dalam waktu kurang dari 5 menit. Ya, gue memang selapar ‘itu’. Setelah kita makan, kita lanjut nonton kelas kita tanding tarik tambang. Yang lucu itu, Bayu selalu ngegiring gue harus nonton dari sebelah mana. Dan gue sewot saat itu. Apa masalahnya emang kalo gue nonton dari segi kubu lawan atau dari sebelah kiri atau dari depan congor panitia? Emang kenapa? Toh nanti juga mereka bolak – balik pindah kubu. Tapi Bayu masih tetep kekeuh ngegiring gue. Dan gue pasrah aja ngikutin maunya dia kemana.
Tapi ada kejadian lucu saat itu. Asli ini random abis. Tiba – tiba Bayu lompat – lompat nggak jelas dan dia tahu gue ngeliatin, dia Cuma nunjuk ke bawah pohon sambil ngomong dengan suara beratnya “ ada kodok ,Tar “ , gue Cuma ngeliat kearah dia nunjuk dan ngomong “ mana? “ , “itu tuh” tunjuk Bayu ke arah rerumputan “ itu dibawah daun itu tuh”, dan tepat saat gue mendekatkan muka gue, kodok itu menggeliat dengan menjijikan. Gue langsung lompat mundur dan …merinding. Gue bukan pembenci kodok. Tapi percaya deh, saat lo ngeliat kodok menggeliat nggak berbentuk kali itu, satu – satunya hal yang lo harapkan buat kodok itu adalah, lenyap dari situ. Gue langsung ngomong ke bayu “ gue geli sama kodok “ , Bayu Cuma nyengir dan bilang “ he he he sama gue juga “. Dan kita berdua ngetawain hal nggak jelas.
Hari itu gue akhiri dengan menghilangnya Bayu secara mendadak. Gue sempet tanya sama chairmate kemana Bayu, kata dia lagi sama temennya yang dari Unpad. Dan dari situ gue ngerti dan langsung menarik diri. He’s back with his own life where I never exist. Gue ngerti dan gue mencoba nggak teganggu dengan fakta itu. Tapi perasaan nggak bisa boong. Gue pulang dan akhiri hari dengan mood bolong – bolong. Dan gue pulang.
Dan mungkin gue akan ketemu Bayu lagi nanti. Saat semester 2 kuliah dimulai.
Saat di hatinya masih bersemi cinta untuk kekasihnya.
Dimana gue hanya rumput Jepang biasa yang tumbuh disekelilingnya.
Cuma untuk menqambah keindahan kehidupan Bayu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar